Hari Jum’at tanggal 10 Januari
1997, atau tanggal 1 Ramadhan, yang
sepertinya pada tahun 1418 Hijriah, pada pukul 11.15 WIB aku terlahir di dunia
ini. Lahir dari pasangan orang tua yang sederhana namun tetap luar biasa
dimataku. Aku terlahir dari kedua orang tua yang masih setia satu sama lain
sampai sekarang dan aku harapkan sampai nanti di keabadian. Aku tak pernah
terfikir, bahkan tak pernah berharap untuk terlahir didunia ini. Terlahir
didunia yang menurutku penuh akan ujian. Aku terlahir berkat seorang Bapak
pekerja keras yang menanamkan benih di rahim Mamaku, Guritno namanya. Dan aku
juga terlahir dari rahim seorang Mama yang dengan sabarnya mengandungku selama
9 bulan lamanya, Endah Setiawati namanya. Menurut mamaku Aku adalah anak yang
sangat ditunggu-tunggu kehadirannya di muka bumi oleh kedua orang tuaku. Karena
jarak umurku dan Masku tujuh tahun. Mama dan Bapakku pernah berfikir jika hanya
dititipkan satu orang anak oleh yang Maha Kuasa yaitu Masku, namun Tuhan
menjawab doa mereka berupa dilahirkannya seorang aku.
Selain orang tuaku, aku juga
memiliki sosok yang sangat berjasa dalam kehidupanku. Mbok Siti biasanya aku
panggil. Dia merupakan pengasuhku sewaktu kecil. Dia selalu sabar dalam
mengawasiku. Dia bukan hanya mengawasiku, tapi juga membimbingku akan banyak
hal. Hal yang paling aku ingat adalah pelajaran membaca. Dia mendidikku membaca
dengan sangat sabar. Dimulai dari mengenal abjad, menghafal abjad, mengeja,
hingga bisa membaca. Aku mulai diajari beliau membaca saat usia satu setengah tahun.
Metode yang paling sering beliau terapkan kepadaku adalah belajar sambil
bermain. Biasanya beliau menulis sebuah kata dikaca bagian belakang mobil yang
sudah agak berdebu. Kata-kata yang paling aku ingat adalah “roda”.
Er-o-ro-de-a-da-roda. Ejaan yang bisa membuatku bisa membaca pada umur dua
setengah tahun. Terima kasih mbok Siti, terima kasih atas semua yang telah
engkau ajarkan. Terima kasih atas pelajaran membaca yang sederhana namun sangat
berharga. Berkat keikhlasanmu, aku bisa menulis autobiografi seperti sekarang
ini.
Pada umur tiga setengah tahun, itu
pertama kalinya aku mendapatkan pendidikan formal. Aku mendapatkan pendidikan
formal itu di TK Harapan Bunda Palembang. Banyak hal yang aku dapatkan di TK ku
itu, dari mulai berinteraksi dengan sesama, sampai hal-hal yang menggunakan
otak. Aku bukanlah orang yang mudah bersosialisasi. Pada masa TK aku hanya
memiliki satu teman Dhimas namanya. Waktu aku menduduki jenjang TK, aku biasa
diasuh oleh tetanggaku. Aku biasa memanggil beliau Mbak Yatik. Mbak Yatik yang
biasanya mengantar, dan menjemputku semasa TK. Mama dan Bapakku bekerja di
Instasi yang mengikat, sehingga tak memiliki waktu untuk mengantar dan
menjemputku ke sekolah.
Masa TK adalah masa yang paling
menyenangkan menurutku, tidak ada beban, tidak ada tuntutan. Kita belajar
sambil bermain. Belajar hal yang sangat mendasar, seperti menggunting, membuat
lingkarang, membuat garis, mewarnai, dan lain-lain. Wali kelasku waktu TK
adalah Ibu Nini dan Ibu Asma. Sampai sekarang, Ibu Nini masih mengajar di TK
ku, tapi tidak tahu kalau ibu Asma. Pada masa TK banyak diadakan even yang
membuat murid terpacu semangat dan kepercayaan dirinya. Seperti polisi cilik,
parade cilik, festival profesi cilik, lomba-lomba, pertunjukan hewan-hewan
jinak, dan lain-lai. Hal ini sangat mengasyikkan, dan mungkin hanya dapat aku
rasakan ketika TK. Sekitar setahun sudah menjalani masa TK, aku lulus dan
mendapatkan ijazah. Pada awalnya, mamaku menginginkan aku untuk masuk TK selama
dua tahun yaitu nol kecil, dan nol besar. Namun aku ditolak oleh TK ku, dengan
alasan akan mengganggu yang lainnya belajar. Karena aku dianggap aku sudah
mampu untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya.
Pertamanya mamaku khawatir, apakah
ada SD yang mau anak empat tahun setengah untuk bersekolah. Untungnya aku
memiliki tetangga yang bekerja di SDN 586 (namanya sekarang menjadi SDN 114)
Palembang. Mamaku menitipkanku di SDN 586 itu hanya sekedar untuk numpang belajar dengan menuakan umurku
atu tahun. Namun ternyata pada semester dua kenaikan kelas aku mendapatkan
raport hasil belajar, dan aku bisa mengikuti pelajaran sebagai siswi di sekolah
tersebut. Karena aku tidak ingat hal apa yang telah aku lalui selama aku duduk
dikelas satu SD, jadi langsung saja aku ceritakan masa aku dikelas dua SD.
Hal
yang paling aku ingat pada masa kelas dua SD adalah pertama kali belajar
sempoa. SD aku dulu memfasilitasi anak muridnya yang mau belajar sempoa.
Sempoaku berbeda dengan sempoa yang beredar dipasaran sekarang. Sempoa milikku
dulu terbuat dari kayu.pertemuan pertama kami diajarkan arti dari tiap manik
yang ada disempoa, hingga diajarkan teknik tangan untuk penggunaan sempoa. Hari
pertama berlangsung dengan lancar dan kami diberikan pekerjaan rumah berupa
satu halaman soal yang mungkin terdiri dari seratus soal yang harus
diselesaikan dan dikumpul esok hari. Sesampai dirumah aku mencoba menggunakan
sempoaku, hanya kebingungan yang aku dapatkan. Bolak-balik aku memutar pikiran
untuk menggunakan sempoa ini, namun tetap tak berhasil. Alhasil karena melihat
soalnya sederhana seperti satu ditambah dua, tiga dikurang satu, empat ditambah
dua, aku mengerjakan pekerjaan rumahku itu secara manual. Jujur, sampai
sekarang aku masih kurang mengerti cara penggunaan sempoa.
Pada
saat kelas tiga SD aku memiliki pengalaman unik yang membuatku ingat sampai
sekarang, yaitu wali kelasku Ibu Ijah namanya. Ibu Ijah adalah guru yang paling
killer semasa SD ku. Beliau tidak
segan melakukan kekerasan kepada siswa/i nya namun dilandasi dengan alasan demi
mendidik anak muridnya menjadi lebih disiplin. Hukuman yang biasanya ia berikan
kepada muridnya apabila melanggar peraturan adalah dengan memukul telapak
tangan muridnya dengan rotan. Aku akui itu sangat amat teramat sakit, namun
harus juga aku akui itu membentuk kedisplinanku menjadi lebih baik. Peraturan
yang ia terapkan dan harus aku patuhi yaitu, membuat hari dan tanggal pada
setiap catatan dan latihan yang di berikan, membuat tulisan nomor diatas baris
nomor, mengkotakkan setiap jawaban dari latihan-latihan, membuatgaris tepi pada
setiap catatan dan latihan, membuat kolom dengan tulisan N, T, K, dengan N
untuk kolom nilai, T untuk nilai kerapian menulis, dan K untuk nilai kebersihan
tulisan. Ibu ijah masih memiliki banyak peraturan lainnya, namun biasanya
apabila kita menaati peraturan tersebut beliau memberikan hadiah. Seperti
barisan terapi, tertenang, dan terbersih beliau akan memulangkan barisan itu
terlebih dahulu. Sama halnya seperti perkalian satu sampai sepuluh, setiap
masuk dan pulang sekolah kami biasanya di tes untuk menghapal perkalian. Bagi
yang bisa menghafal terlebih dahulu diizinkan pulang lebih awal dari pada yang
belum menghafal perkalian. Dan menurutku apa yang dilakukan Ibu Ijah berhasil
membuatku hafal perkalian satu sampai sepuluh hingga sekarang.
Aku
tak banyak mengingat kenangan SD ku waktu kelas empat, lima, dan enam SD.
Sehingga langsung saja aku bahas tentang perjuanganku untuk masuk SMP yang dari
kelas empat SD aku idam-idamkan. SMPN 9 palembang namanya, dari semenjak aku SD
sudah tersohor namanya. Jarak dari rumah ke SMPku memang lumayan jauh, sehingga
banyak yang bilang buat apa masuk ke SMP yang jauh-jauh dari rumah, toh sama saja. Namun aku tetap bertekad
untuk dapat lulus di SMP itu. Pada hari pengumuman hasil ujian masuk SMP itu
aku ragu untuk melihat hasilnya sendiri, mengingat jumlah kuota dan pendaftar
yang semakin membuatku pesimis. Sehingga, aku minta tolong temanku untuk
meihatkan hasilnya. Dan Alhamdulillah, kabar yang ia berikan sangat memuaskan
aku siswi SMPN 9 Palembang saat itu.
Tak
ada yang menarik dalam kehidupanku semasa SMP kelas tujuh dan delapan. Entah,
mungkin aku lupa hal menarik yang mungkin sudah pernah aku lewati. Langsung
saja aku bahas persiapan UN dan masuk SMA. Waktu itu aku duduk di kelas
Sembilan-empat. Sembilan-empat biasa kami sebut “sempatis” Sembilan empat
autis. Entah siapa yang memilihkan nama itu, tapi tetap teringat bagaimana
perjuangan kami dulu dapat lulus UN dengan nilai yang memuaskan dan masuk SMA
favorit masing-masing. Sebelum tes UN SMP aku dan teman-temanku mencoba peruntungan
untuk tes dibeberapa SMA unggulan yang melaksanakan tesnya lebih awal, seperti
SMAN 17 Palembang, SMAN 6 Palembang, SMAN 5 Palembang, dan MAN 3 Palembang.
Pertamanya aku ikut tes di SMAN 17 Palembang, segala rangkaian ujian tes telah
aku ikuti dari mulai awal tes tertulis yang memutar otak tapi Alhamdulillah aku
lulus tahap itu. Dilanjutkan dengan tes IQ, TOEFL, debat bahasa Inggris dengan
ketiga guru disana, dan wawancara tentang keagamaan; kepribadian; kesopanan;
dan aku lupa satunya lagi apa Alhamdulillah aku lulus dari semua tahap itu.
Namun aku gagal pada tahap terakhir wawancara berjamaah bersama Kepala Sekolah
yang menyebabkanku duduk di daftar cadangan nomor delapan disekolah itu. Pada
awalnya aku berfikir apa kesalahanku sehingga perjuangan terakhirku itu gagal,
seingatku Kepala Sekolahnya hanya memberikan pertanyaan nama, asal sekolah,
pekerjaan orang tua, dan cita-cita. Jujur aku merasa sangat terpukul saat itu
karena disaat aku yakin lulus di SMA itu aku gagal.
Pada
hari yang sama saat pengumuman final di SMAN 17 Palembang, aku sedang mengantri
giliran wawancara di MAN 3 Palembang. Aku mendapatkan kabar yang cukup
membuatku kecewa itu melalui telepon dari Masku. Pada awalnya aku merasa gagal
dalam menggapai cita-citaku. Cita-cita yang sudah aku inginkan dari kelas lima
SD. Sampai akhirnya aku lulus di MAN3, dan kami diberikan waktu lima lima hari
untuk membayar uang sejumlah dua juta rupiah untuk biasay tes IQ, TOEFL,
pakaian dan lain-lain. Hari terakhir membayar uang tersebut adalah hari Jum’at,
dan hari Kamis adalah hari dimana pengumuman pemanggilan cadangan dari SMAN 17
Palembang. Dari orang tuaku mereka lebih memilih aku untuk bersekolah di SMAN
17 Palembang, namun aku sudah terlanjur kecewa akan anganku. Sehingga, pada
hari Rabu aku menyuruh kedua orang tuaku untuk membayarakan uang kepada MAN 3. Hal itu aku lakukan, apabila aku
ternyata dipanggil SMAN 17 dan dinyatakan lulus, aku tetap memilih MAN 3 karena
sudah menyetorkan sejumlah uang. Dan ternyata setelah menyetorkan sejumlah uang
tersebut, aku dipanggil SMAN 17 dan dinyatakan luus sebagai murid disitu.
Jelas
nampak keinginan orang tuaku untuk aku tetap bersekolah di SMAN 17 itu, karena
pada awalnya kedua orang tuaku memandang rendah Madrasah yang cenderung
terbelakang. Namun, setelah aku ajak melihat MAN 3 Palembang, keraguan itu
langsung pudar. Melihat fasilitas, dan tenaga pengajar yang berkualitas membuat
restu dari kedua orang tua untuk belajar di MAN 3 Palembang aku dapatkan. Aku
bertekad dalam diri sendiri untuk dapat masuk kelas Akselerasi demi
membahagiakan orang tua. Serangkaian tes telah aku lewati dan Alhamdulillah aku
lulus di kelas Akselerasi.
Dan
setelah kejadian itu aku yakin bahwa saat tuhan menjawab doamu dia meminta
imanmu, saat tuhan belum menjawab doamu dia meminta kesabaranmu, dan saat tuhan
menjawab tapi bukan doamu dia memilihkan yang terbaik untukmu. Aku yakin MAN 3
Palembang adalah jalan terbaik yang dipilihkan tuhan untukku. Dan alamdulillah
aku dapat bergabung dikelas Akselerasi MAN 3 Palembang.
Dikelas
akselerasi yang biasa kami sebut dengan kelas Semester Pendek (SP) aku mengenal
teman-teman yang memiliki berbagai macam watak. Disini aku belajar bagaimana
cara bersahabat, merasakan saling memiliki seperti kelarga, sampai hal
percintaan. Percintaan yang sangat lucu apabila aku ingat kembali. Ada sukanya,
tapi lebih banyak dukanya. Tapi itu menjadikan sebuah pelajaran, dan membuat
keimanan dan pengetahuanku akan agama Islam bertambah. Mengingat pasanganku
waktu itu adalah lulusan dari pesantren, sehingga aku tertular perilaku
alimnya. Seperti pepatah apabila berteman dengan tukang jual minyak wangi, kau
akan ikutan wangi. Hingga akhirnya aku diputuskan olehnya karena alasan takut
dengan Allah. Pada awalnya aku berfikir, kenapa dia memulai kalau ternyata hars
diakhiri. Kenapa pada awalnya ia tak takut, tapi setelah aku fikir-fikir itu
semua benar.
Semua
hal aku lakukan bersama di kelas SP itu. Belajar, bermain, bercanda, makan,
tidur, ngobrol, dan lain-lain secara bersama. Aku merasakan mereka seperti
keluargaku sendiri. Selain teman sekelasku aku juga memiliki keluarga kecil
lainnya didalam asrama yaitu teman satu kamarku. Kamar kami diberi nama
“primitive” karena dianggap orang yang berada dikamar itu semuanya aneh. Senang
sedih kami lalui bersama. Kebahagaiaan hingga ketakutan kami lalaui bersama
satu tahun. Kebahagiaan karena bolos dari sholat berjamaah. Kebahagiaan karena
kabur dari kerja bakti mingguan. Kebahagiaan karena sembunyi saat kegiatan
barzanji. Kebahagiaan akan hal-hal yang mungkin tak dapat aku rasakan lagi.
Begitu juga ketakutan yang dilalui bersama saat ketauan bolos dari sholat
berjamaah, kabur bakti mingguan, sembunyi dari barzanji, ketauan bawak hape dan
lain-lain. Sehingga banyak hal lainnya yang mungkin tak bisa aku sebutkan satu
persatu di autobiografi ini.
Langsung
saja ya aku bahas tentang testimoni masuk di Akademi Kimia Analisis ini. Pada
awalnya tiap malam sebelum UN aku hanya bermain internet untuk sekedar bermain Facebook, Twitter, My Space, dan
lain-lain. Dan beruntungnya aku membaca sebuah tweet dari salah satu akun yang berisikan tentang ujian masuk lewat
jalur Raport dari AKABO. Pertamanya telah dari jauh-jauh hari aku mengisi
formulir AKA secara online namun aku ragu apakah aku diperbolehkan oleh orang
tua untuk mengikuti tes raport AKA. Hingga sekitar tiga minggu kemudian, aku
kembali mengisi formulir AKA secara online untuk kedua kalinya. Setelah mengisi
formulir AKA, aku menghadap kedua orangtua ku untuk meminta izin mendaftar AKA.
Keraguan pada awalnya menghampiri orang tuaku, namun setelah browsing di internet tentang AKA
keraguan itupun terhapuskan.
Kedua
orang tuaku sebenarnya masih mengharapkan aku untuk lulus jalur undangan, namun
aku lebih condong memilih untuk masuk AKA. Aku lebih condong masuk AKA karena
mendengar cerita tentang AKA dari Kak Akbar, dan Kak Anggun, AKA itu lebih
menjanjikan dalam bursa kerja. Mengingat jalur undangan kebanyakan lulus pada
pilihan pertama, dan aku memilih Teknik Mesin – ITS itu membuatku pesimis lulus
dari jalur undangan. Dan pada akhirnya setelah pengumuman AKA keluar, aku
kecewa karena tidak lulus. Terlihat hanya ada empat puluh orang yang lulus AKA.
Sedih jelas aku rasakan. Orang tuaku hanya berkata padaku “sudah gak papa,
bukan jalannya”. Namun, setelah aku unduh filenya ternyata itu dari jalur
undangan, bukan raport.
Setelah
menunggu beberapa hari, pengumumamn raport yang ditunggu-tunggu pun keluar. Aku
mulai membuka laptop dan mengunduh pengumuman raport AKA setelah ashar. Namun,
hingga pukul setengah sembilan malam aku belum bisa mengunduh file itu.
Kegalauan yang hanya aku rasakan. Ini gangguan jaringan, atau terlalu banyak
yang sedang membuka web AKA. Akhirnya aku bosan, dan mulai bermain jejaring
social. Aku online kan percakapanku di Facebook,
lalu aku temukan beberapa teman dan minta tolong untuk membukakan pengumuman
itu. Aku juga mencari teman di Twitter
untuk minta tolong membukakan pengumuman itu juga. Alhasil dari sebanyak
sebelas orang yang aku mintai tolong,
ada dua yang berhasil membuka hasil pengumman itu. Dan Alhamdulillah aku
lulus sebagai mahasiswi Akademi Kimia Analisi Bogor.