Kamis, 11 Juli 2013

Biodiesel Sawit

Sering kali orang beranggapan bahwa minyak sisa menggoreng atau yang biasa kita sebut minyak jelantah itu sudah tidak ada lagi gunanya. Rata-rata pengguna minyak sawit, langsung membuang minyak sisa hasil menggoreng setelah digunakan maksimal tiga kali penggorengan. Oleh karena itu, Mahasiswa Akademi Kimia Analisis Bogor yang tergabung dalam komunitas Eks-Kim (Eksperimen Kimia) mencoba memanfaatkan limbah rumah tangga yang melimpah ini menjadi sebuah olahan yang bermanfaat. Bahan bakar dari minyak nabati (biodiesel) dikenal sebagai produk yang ramah lingkungan, tidak mencemari udara, mudah terbiodegradasi, dan berasal dari bahan baku yang dapat diperbaharui.
Mudah dan murah, dua hal ini juga lah yang melatar belakangi pembuatan biodiesel sederhana ini. Selain bahan baku mudah didapat, proses pembuatannya pun bisa dilakukan dalam skala rumah tangga. Bahan-bahan yang dibutukan adalah minyak jelantah, NaOH (soda kaustik), dan alkohol (etanol). Pertama-tama minyak jelantah dipansakan hingga suhu sekitar 65°C. Kemudian masukkan NaOH yang telah dilarutkan didalam air ke dalam minyak yang telah dipanaskan, aduk rata. Lalu, tambahkan alkohol kedalam campuran dan aduk rata lagi. Matikan api, dan tunggu sejenak hingga dingin. Lalu, larutan disaring dan biodiesel kelapa sawit siap untuk digunakan.
“Sebenarnya telah banyak yang melakukan percobaan ini, namun kami mencoba berinovasi dalam metode yang dilakukan” ujar Ludhy selaku ketua komunitas ini. Beliau juga berharap agar lebih banyak lagi masyarakat yang beralih menggunakan biodiesel sebagai sumber bahan bakar. Selain mudah dan murah, biodiesel juga ramah terhadap lingkungan. Ditengah Pro dan Kontra terhadap kenaikan harga BBM, biodiesel bisa jadi salah satu solusi dari masalah yang ada. (shinta)



terbit di Radar Bogor, rubrik Radar Kampus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar