Senin, 01 Juli 2013

tulisan versi maba : autobiografi

            Hari Jum’at tanggal 10 Januari 1997,  atau tanggal 1 Ramadhan, yang sepertinya pada tahun 1418 Hijriah, pada pukul 11.15 WIB aku terlahir di dunia ini. Lahir dari pasangan orang tua yang sederhana namun tetap luar biasa dimataku. Aku terlahir dari kedua orang tua yang masih setia satu sama lain sampai sekarang dan aku harapkan sampai nanti di keabadian. Aku tak pernah terfikir, bahkan tak pernah berharap untuk terlahir didunia ini. Terlahir didunia yang menurutku penuh akan ujian. Aku terlahir berkat seorang Bapak pekerja keras yang menanamkan benih di rahim Mamaku, Guritno namanya. Dan aku juga terlahir dari rahim seorang Mama yang dengan sabarnya mengandungku selama 9 bulan lamanya, Endah Setiawati namanya. Menurut mamaku Aku adalah anak yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya di muka bumi oleh kedua orang tuaku. Karena jarak umurku dan Masku tujuh tahun. Mama dan Bapakku pernah berfikir jika hanya dititipkan satu orang anak oleh yang Maha Kuasa yaitu Masku, namun Tuhan menjawab doa mereka berupa dilahirkannya seorang aku.
            Selain orang tuaku, aku juga memiliki sosok yang sangat berjasa dalam kehidupanku. Mbok Siti biasanya aku panggil. Dia merupakan pengasuhku sewaktu kecil. Dia selalu sabar dalam mengawasiku. Dia bukan hanya mengawasiku, tapi juga membimbingku akan banyak hal. Hal yang paling aku ingat adalah pelajaran membaca. Dia mendidikku membaca dengan sangat sabar. Dimulai dari mengenal abjad, menghafal abjad, mengeja, hingga bisa membaca. Aku mulai diajari beliau membaca saat usia satu setengah tahun. Metode yang paling sering beliau terapkan kepadaku adalah belajar sambil bermain. Biasanya beliau menulis sebuah kata dikaca bagian belakang mobil yang sudah agak berdebu. Kata-kata yang paling aku ingat adalah “roda”. Er-o-ro-de-a-da-roda. Ejaan yang bisa membuatku bisa membaca pada umur dua setengah tahun. Terima kasih mbok Siti, terima kasih atas semua yang telah engkau ajarkan. Terima kasih atas pelajaran membaca yang sederhana namun sangat berharga. Berkat keikhlasanmu, aku bisa menulis autobiografi seperti sekarang ini.
            Pada umur tiga setengah tahun, itu pertama kalinya aku mendapatkan pendidikan formal. Aku mendapatkan pendidikan formal itu di TK Harapan Bunda Palembang. Banyak hal yang aku dapatkan di TK ku itu, dari mulai berinteraksi dengan sesama, sampai hal-hal yang menggunakan otak. Aku bukanlah orang yang mudah bersosialisasi. Pada masa TK aku hanya memiliki satu teman Dhimas namanya. Waktu aku menduduki jenjang TK, aku biasa diasuh oleh tetanggaku. Aku biasa memanggil beliau Mbak Yatik. Mbak Yatik yang biasanya mengantar, dan menjemputku semasa TK. Mama dan Bapakku bekerja di Instasi yang mengikat, sehingga tak memiliki waktu untuk mengantar dan menjemputku ke sekolah.
            Masa TK adalah masa yang paling menyenangkan menurutku, tidak ada beban, tidak ada tuntutan. Kita belajar sambil bermain. Belajar hal yang sangat mendasar, seperti menggunting, membuat lingkarang, membuat garis, mewarnai, dan lain-lain. Wali kelasku waktu TK adalah Ibu Nini dan Ibu Asma. Sampai sekarang, Ibu Nini masih mengajar di TK ku, tapi tidak tahu kalau ibu Asma. Pada masa TK banyak diadakan even yang membuat murid terpacu semangat dan kepercayaan dirinya. Seperti polisi cilik, parade cilik, festival profesi cilik, lomba-lomba, pertunjukan hewan-hewan jinak, dan lain-lai. Hal ini sangat mengasyikkan, dan mungkin hanya dapat aku rasakan ketika TK. Sekitar setahun sudah menjalani masa TK, aku lulus dan mendapatkan ijazah. Pada awalnya, mamaku menginginkan aku untuk masuk TK selama dua tahun yaitu nol kecil, dan nol besar. Namun aku ditolak oleh TK ku, dengan alasan akan mengganggu yang lainnya belajar. Karena aku dianggap aku sudah mampu untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya.
            Pertamanya mamaku khawatir, apakah ada SD yang mau anak empat tahun setengah untuk bersekolah. Untungnya aku memiliki tetangga yang bekerja di SDN 586 (namanya sekarang menjadi SDN 114) Palembang. Mamaku menitipkanku di SDN 586 itu hanya sekedar untuk numpang belajar dengan menuakan umurku atu tahun. Namun ternyata pada semester dua kenaikan kelas aku mendapatkan raport hasil belajar, dan aku bisa mengikuti pelajaran sebagai siswi di sekolah tersebut. Karena aku tidak ingat hal apa yang telah aku lalui selama aku duduk dikelas satu SD, jadi langsung saja aku ceritakan masa aku dikelas dua SD.
Hal yang paling aku ingat pada masa kelas dua SD adalah pertama kali belajar sempoa. SD aku dulu memfasilitasi anak muridnya yang mau belajar sempoa. Sempoaku berbeda dengan sempoa yang beredar dipasaran sekarang. Sempoa milikku dulu terbuat dari kayu.pertemuan pertama kami diajarkan arti dari tiap manik yang ada disempoa, hingga diajarkan teknik tangan untuk penggunaan sempoa. Hari pertama berlangsung dengan lancar dan kami diberikan pekerjaan rumah berupa satu halaman soal yang mungkin terdiri dari seratus soal yang harus diselesaikan dan dikumpul esok hari. Sesampai dirumah aku mencoba menggunakan sempoaku, hanya kebingungan yang aku dapatkan. Bolak-balik aku memutar pikiran untuk menggunakan sempoa ini, namun tetap tak berhasil. Alhasil karena melihat soalnya sederhana seperti satu ditambah dua, tiga dikurang satu, empat ditambah dua, aku mengerjakan pekerjaan rumahku itu secara manual. Jujur, sampai sekarang aku masih kurang mengerti cara penggunaan sempoa.
Pada saat kelas tiga SD aku memiliki pengalaman unik yang membuatku ingat sampai sekarang, yaitu wali kelasku Ibu Ijah namanya. Ibu Ijah adalah guru yang paling killer semasa SD ku. Beliau tidak segan melakukan kekerasan kepada siswa/i nya namun dilandasi dengan alasan demi mendidik anak muridnya menjadi lebih disiplin. Hukuman yang biasanya ia berikan kepada muridnya apabila melanggar peraturan adalah dengan memukul telapak tangan muridnya dengan rotan. Aku akui itu sangat amat teramat sakit, namun harus juga aku akui itu membentuk kedisplinanku menjadi lebih baik. Peraturan yang ia terapkan dan harus aku patuhi yaitu, membuat hari dan tanggal pada setiap catatan dan latihan yang di berikan, membuat tulisan nomor diatas baris nomor, mengkotakkan setiap jawaban dari latihan-latihan, membuatgaris tepi pada setiap catatan dan latihan, membuat kolom dengan tulisan N, T, K, dengan N untuk kolom nilai, T untuk nilai kerapian menulis, dan K untuk nilai kebersihan tulisan. Ibu ijah masih memiliki banyak peraturan lainnya, namun biasanya apabila kita menaati peraturan tersebut beliau memberikan hadiah. Seperti barisan terapi, tertenang, dan terbersih beliau akan memulangkan barisan itu terlebih dahulu. Sama halnya seperti perkalian satu sampai sepuluh, setiap masuk dan pulang sekolah kami biasanya di tes untuk menghapal perkalian. Bagi yang bisa menghafal terlebih dahulu diizinkan pulang lebih awal dari pada yang belum menghafal perkalian. Dan menurutku apa yang dilakukan Ibu Ijah berhasil membuatku hafal perkalian satu sampai sepuluh hingga sekarang.
Aku tak banyak mengingat kenangan SD ku waktu kelas empat, lima, dan enam SD. Sehingga langsung saja aku bahas tentang perjuanganku untuk masuk SMP yang dari kelas empat SD aku idam-idamkan. SMPN 9 palembang namanya, dari semenjak aku SD sudah tersohor namanya. Jarak dari rumah ke SMPku memang lumayan jauh, sehingga banyak yang bilang buat apa masuk ke SMP yang jauh-jauh dari rumah, toh sama saja. Namun aku tetap bertekad untuk dapat lulus di SMP itu. Pada hari pengumuman hasil ujian masuk SMP itu aku ragu untuk melihat hasilnya sendiri, mengingat jumlah kuota dan pendaftar yang semakin membuatku pesimis. Sehingga, aku minta tolong temanku untuk meihatkan hasilnya. Dan Alhamdulillah, kabar yang ia berikan sangat memuaskan aku siswi SMPN 9 Palembang saat itu.
Tak ada yang menarik dalam kehidupanku semasa SMP kelas tujuh dan delapan. Entah, mungkin aku lupa hal menarik yang mungkin sudah pernah aku lewati. Langsung saja aku bahas persiapan UN dan masuk SMA. Waktu itu aku duduk di kelas Sembilan-empat. Sembilan-empat biasa kami sebut “sempatis” Sembilan empat autis. Entah siapa yang memilihkan nama itu, tapi tetap teringat bagaimana perjuangan kami dulu dapat lulus UN dengan nilai yang memuaskan dan masuk SMA favorit masing-masing. Sebelum tes UN SMP aku dan teman-temanku mencoba peruntungan untuk tes dibeberapa SMA unggulan yang melaksanakan tesnya lebih awal, seperti SMAN 17 Palembang, SMAN 6 Palembang, SMAN 5 Palembang, dan MAN 3 Palembang. Pertamanya aku ikut tes di SMAN 17 Palembang, segala rangkaian ujian tes telah aku ikuti dari mulai awal tes tertulis yang memutar otak tapi Alhamdulillah aku lulus tahap itu. Dilanjutkan dengan tes IQ, TOEFL, debat bahasa Inggris dengan ketiga guru disana, dan wawancara tentang keagamaan; kepribadian; kesopanan; dan aku lupa satunya lagi apa Alhamdulillah aku lulus dari semua tahap itu. Namun aku gagal pada tahap terakhir wawancara berjamaah bersama Kepala Sekolah yang menyebabkanku duduk di daftar cadangan nomor delapan disekolah itu. Pada awalnya aku berfikir apa kesalahanku sehingga perjuangan terakhirku itu gagal, seingatku Kepala Sekolahnya hanya memberikan pertanyaan nama, asal sekolah, pekerjaan orang tua, dan cita-cita. Jujur aku merasa sangat terpukul saat itu karena disaat aku yakin lulus di SMA itu aku gagal.
Pada hari yang sama saat pengumuman final di SMAN 17 Palembang, aku sedang mengantri giliran wawancara di MAN 3 Palembang. Aku mendapatkan kabar yang cukup membuatku kecewa itu melalui telepon dari Masku. Pada awalnya aku merasa gagal dalam menggapai cita-citaku. Cita-cita yang sudah aku inginkan dari kelas lima SD. Sampai akhirnya aku lulus di MAN3, dan kami diberikan waktu lima lima hari untuk membayar uang sejumlah dua juta rupiah untuk biasay tes IQ, TOEFL, pakaian dan lain-lain. Hari terakhir membayar uang tersebut adalah hari Jum’at, dan hari Kamis adalah hari dimana pengumuman pemanggilan cadangan dari SMAN 17 Palembang. Dari orang tuaku mereka lebih memilih aku untuk bersekolah di SMAN 17 Palembang, namun aku sudah terlanjur kecewa akan anganku. Sehingga, pada hari Rabu aku menyuruh kedua orang tuaku untuk membayarakan uang kepada  MAN 3. Hal itu aku lakukan, apabila aku ternyata dipanggil SMAN 17 dan dinyatakan lulus, aku tetap memilih MAN 3 karena sudah menyetorkan sejumlah uang. Dan ternyata setelah menyetorkan sejumlah uang tersebut, aku dipanggil SMAN 17 dan dinyatakan luus sebagai murid disitu.
Jelas nampak keinginan orang tuaku untuk aku tetap bersekolah di SMAN 17 itu, karena pada awalnya kedua orang tuaku memandang rendah Madrasah yang cenderung terbelakang. Namun, setelah aku ajak melihat MAN 3 Palembang, keraguan itu langsung pudar. Melihat fasilitas, dan tenaga pengajar yang berkualitas membuat restu dari kedua orang tua untuk belajar di MAN 3 Palembang aku dapatkan. Aku bertekad dalam diri sendiri untuk dapat masuk kelas Akselerasi demi membahagiakan orang tua. Serangkaian tes telah aku lewati dan Alhamdulillah aku lulus di kelas Akselerasi.
Dan setelah kejadian itu aku yakin bahwa saat tuhan menjawab doamu dia meminta imanmu, saat tuhan belum menjawab doamu dia meminta kesabaranmu, dan saat tuhan menjawab tapi bukan doamu dia memilihkan yang terbaik untukmu. Aku yakin MAN 3 Palembang adalah jalan terbaik yang dipilihkan tuhan untukku. Dan alamdulillah aku dapat bergabung dikelas Akselerasi MAN 3 Palembang.
Dikelas akselerasi yang biasa kami sebut dengan kelas Semester Pendek (SP) aku mengenal teman-teman yang memiliki berbagai macam watak. Disini aku belajar bagaimana cara bersahabat, merasakan saling memiliki seperti kelarga, sampai hal percintaan. Percintaan yang sangat lucu apabila aku ingat kembali. Ada sukanya, tapi lebih banyak dukanya. Tapi itu menjadikan sebuah pelajaran, dan membuat keimanan dan pengetahuanku akan agama Islam bertambah. Mengingat pasanganku waktu itu adalah lulusan dari pesantren, sehingga aku tertular perilaku alimnya. Seperti pepatah apabila berteman dengan tukang jual minyak wangi, kau akan ikutan wangi. Hingga akhirnya aku diputuskan olehnya karena alasan takut dengan Allah. Pada awalnya aku berfikir, kenapa dia memulai kalau ternyata hars diakhiri. Kenapa pada awalnya ia tak takut, tapi setelah aku fikir-fikir itu semua benar.
Semua hal aku lakukan bersama di kelas SP itu. Belajar, bermain, bercanda, makan, tidur, ngobrol, dan lain-lain secara bersama. Aku merasakan mereka seperti keluargaku sendiri. Selain teman sekelasku aku juga memiliki keluarga kecil lainnya didalam asrama yaitu teman satu kamarku. Kamar kami diberi nama “primitive” karena dianggap orang yang berada dikamar itu semuanya aneh. Senang sedih kami lalui bersama. Kebahagaiaan hingga ketakutan kami lalaui bersama satu tahun. Kebahagiaan karena bolos dari sholat berjamaah. Kebahagiaan karena kabur dari kerja bakti mingguan. Kebahagiaan karena sembunyi saat kegiatan barzanji. Kebahagiaan akan hal-hal yang mungkin tak dapat aku rasakan lagi. Begitu juga ketakutan yang dilalui bersama saat ketauan bolos dari sholat berjamaah, kabur bakti mingguan, sembunyi dari barzanji, ketauan bawak hape dan lain-lain. Sehingga banyak hal lainnya yang mungkin tak bisa aku sebutkan satu persatu di autobiografi ini.
Langsung saja ya aku bahas tentang testimoni masuk di Akademi Kimia Analisis ini. Pada awalnya tiap malam sebelum UN aku hanya bermain internet untuk sekedar bermain Facebook, Twitter, My Space, dan lain-lain. Dan beruntungnya aku membaca sebuah tweet dari salah satu akun yang berisikan tentang ujian masuk lewat jalur Raport dari AKABO. Pertamanya telah dari jauh-jauh hari aku mengisi formulir AKA secara online namun aku ragu apakah aku diperbolehkan oleh orang tua untuk mengikuti tes raport AKA. Hingga sekitar tiga minggu kemudian, aku kembali mengisi formulir AKA secara online untuk kedua kalinya. Setelah mengisi formulir AKA, aku menghadap kedua orangtua ku untuk meminta izin mendaftar AKA. Keraguan pada awalnya menghampiri orang tuaku, namun setelah browsing di internet tentang AKA keraguan itupun terhapuskan.
Kedua orang tuaku sebenarnya masih mengharapkan aku untuk lulus jalur undangan, namun aku lebih condong memilih untuk masuk AKA. Aku lebih condong masuk AKA karena mendengar cerita tentang AKA dari Kak Akbar, dan Kak Anggun, AKA itu lebih menjanjikan dalam bursa kerja. Mengingat jalur undangan kebanyakan lulus pada pilihan pertama, dan aku memilih Teknik Mesin – ITS itu membuatku pesimis lulus dari jalur undangan. Dan pada akhirnya setelah pengumuman AKA keluar, aku kecewa karena tidak lulus. Terlihat hanya ada empat puluh orang yang lulus AKA. Sedih jelas aku rasakan. Orang tuaku hanya berkata padaku “sudah gak papa, bukan jalannya”. Namun, setelah aku unduh filenya ternyata itu dari jalur undangan, bukan raport.

Setelah menunggu beberapa hari, pengumumamn raport yang ditunggu-tunggu pun keluar. Aku mulai membuka laptop dan mengunduh pengumuman raport AKA setelah ashar. Namun, hingga pukul setengah sembilan malam aku belum bisa mengunduh file itu. Kegalauan yang hanya aku rasakan. Ini gangguan jaringan, atau terlalu banyak yang sedang membuka web AKA. Akhirnya aku bosan, dan mulai bermain jejaring social. Aku online kan percakapanku di Facebook, lalu aku temukan beberapa teman dan minta tolong untuk membukakan pengumuman itu. Aku juga mencari teman di Twitter untuk minta tolong membukakan pengumuman itu juga. Alhasil dari sebanyak sebelas orang yang aku mintai tolong,  ada dua yang berhasil membuka hasil pengumman itu. Dan Alhamdulillah aku lulus sebagai mahasiswi Akademi Kimia Analisi Bogor.

2 komentar:

  1. Hai,,,perkenalkan, Aku Endah..tadinya aku iseng cari temen2 masa kecilku di palembang..
    Tapi aku malah nemu blogmu...Isinya hampir sama kayak jalan hidupku..
    TK harapan Bunda 1 taun, masuk sd 586 dg umur yg dituakan, dg wali kelas yg sama tegasnya...dan pas sma aku jg ikut kelas akselerasi.. skrg aku lg S2 di ugm..
    Seneng punya temen yg senasib gini...sukses ya bt kamu :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai kakak, kok bisa sama ya kak. jodoh kali ya *eh. jenjang sekolahnya deh semoga jodoh aamiin. eh kakak TK Harapan Bunda dan SDN 586 juga? jangan-jangan sama ibu ijah juga. hehe. kalo boleh tau S2 jurusan apa kak sekarang? kakak SMA 17 ya? sukses juga ya buat kakak.
      oh iya kak satu lg yg sama, nama kakak endah nama mama aku juga endah hehe :D
      senang berkenalan dengan kakak. eh iya tambah satu lg deh. rumah kakak dimana ya?

      Hapus