Sabtu, 13 September 2014

Jiwa Muda

  Kesehatan bisa jadi salah satu nikmat yang tak dapat digantikan kedudukannya. Sebuah pepatah "sehat itu mahal" dapat melukiskan betapa pentingnya arti sebuah kesehatan. Setiap insan di dunia tentu saja menginginkan kesehatan selalu hinggap dalam diri masing-masing. Oleh karena itu, setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menjaga kesehatannya. Mulai dari menjaga pola makan sehat, mengkonsumsi vitamin, dan olahraga teratur.

Olahraga kini kian menjadi sorotan penting di tengah realita pekembangan globalisasi yang semakin canggih. Dapat kita hitung berapa banyak anak-anak yang masih aktif dalam permainan tradisional sepeti petak umpet dan egrang. Game online dan gadget nampaknya lebih menarik perhatian untuk dijadikan teman sepermainan, daripada harus mengeluarkan energi untuk melakukan permainan tradisional dan bersosialisasi dengan sekitar. Fenomena ini lah yang nampaknya sedang dihadapi oleh sebagian besar negara di dunia.

Keinginan untuk bermain yang rendah dapat menyebabkan penderitanya akan mengalami "kurang gerak", hal ini dapat berakibat buruk pada kesehatan seseorang. Belum lagi antusiasme masyarakat dalam dunia olahraga yang minim, menjadikan diri mereka cukup sebagai suporter ketimbang pemain. Apalagi di tambah dengan minimnya fasilitas pendukung untuk berolahraga semakin menambah alasan untuk mengabaikan pentingnya arti olahraga. Hal ini mengakibatkan meningkatnya kuantitas pemuda dengan semangat olahraga yang minim.

Padahal dengan tetap eksisnya permainan-permainan tradisional yang ada, pemain secara sadar atau tidak mereka sedang melakukan olahraga. Dengan gerakan-gerakan yang menggunakan olah tubuh, permainan tradisional telah cukup mengambil alih peningkatan kebugaran tubuh seseorang. Minimal terjadi gerak tubuh yang dilakukan oleh pemain. Oleh karena itu, permainan tradisional seharusnya memiliki peran penting dalam meningkatkan antusiasme anak-anak dalam berolahraga.

Lantas bagaimana dengan realita yang kini tengah kita hadapi, dan hal apa yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap olahraga. Budaya olahraga sudah harus ditanamkan sejak dini pada diri anak-anak. Peran orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar memiliki peranan penting dalam menciptakan budaya berolahraga. Misalnya suatu RT memiliki agenda mingguan senam bersama, hal ini pasti memiliki dampak positif bagi masyarakat sekitar. Mulailah menanamkan budaya berolahraga dari sekarang, agar budaya olahraga terusmengakar di dalam kehidupan sehari-hari.

#GENspirit

Sabtu, 07 Desember 2013

PEKAN KONDOM NASIONAL MENUAI KONTRA


           


            Pekan Kondom Nasional (PKN) yang direncanakan berlangsung pada tanggal 1 – 7 Desember 2013,  menuai kontra dari berbagai kalangan masyarakat. Pasalnya PKN yang awalnya bertujuan sebagai upaya pergerakan Anti HIV/AIDS ini, merujuk kepada pemahaman dan penafsiran yang beragam dari berbagai pihak.

            Menyeruaknya kabar ini hingga penjuru daerah berimplikasi pula dengan penolakan PKN dari berbagai daerah. Berbagai jenis aksi digelar di beberapa daerah sebagai upaya penolakan rencana ini. Salah satu contohnya Seminar Indonesia Bermoral Tolak Free Sex yang digelar oleh Lembaga Dakwah Kampus Keluarga Muslim AKA (LDK KMA), menyedot perhatian sebagian besar civitas akademik. Agenda yang berlangsung pada 5 Desember 2013, bertempat di Kampus AKA Tanah Baru. Adapun tujuan umum dari agenda ini adalah untuk mencerdaskan masyarakat akan bahaya seks bebas. Seminar ini dihadiri oleh Instansi Pemerintah Kota Bogor, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan MUI Bogor.

            Tanda Pagar TolakPekanKondom (#TolakPekanKondom) pun ramai digunakan oleh pengguna twitter sebagai bentuk keikut sertaan penolakan rencana dari Oma Nafsiah Mboi ini. Berbagai pandangan, dan kritikan pedas membanjiri dunia nyata hingga dunia maya. Apalagi pembagian kondom juga diadakan di kampus, seakan-akan melegalkan mahasiswa untuk melakukan hubungan seksual asalkan aman (red : menggunakan kondom). Oleh karena itu, akhirnya Panitia Penyelenggara Pekan Kondom Nasional 2013 membatalkan acara yang merupakan program dari Kementrian Kesehatan ini

            Tak hanya itu bus bercat merah yang bergambarkan perempuan seksi dengan bangganya melenggang mengelilingi perkotaan. Kampanye ini nampak seperti mempromosikan kondom dan menganjurkan seks bebas bukan lagi aksi untuk mencegah HIV dan AIDS. Program PKN memang tidak tepat sebagai program edukasi untuk mengurangi penularan HIV/AIDS di Indonesia, karena yang terjadi akan justru menjerumuskan generasi penerus.

            Hal penting yang harus dilakukan bukanlah membagikan kondom secara gratis, tetapi bagaimana mengedukasi masyarakat tentang bahaya dari HIV/ AIDS. Sebenarnya masih banyak hal lain yang dapat dilakukan selain menggelar PKN ini seperti, sosialisasi bahaya dari seks bebas, penutupan tempat prostusi, dan pemblokiran situs porno.


(SHINTA)

Senin, 02 Desember 2013

AKA GELAR KOMPETISI OLAHRAGA

Akademi Kimia Analisis Bogor, kampus kecil yang berada di daerah Tanah Baru ini menyelenggarakan ajang kompetisi olahraga yang ke enam. Kompetisi ini diikuti oleh mahasiswa, civitas akademik, dan alumni AKA Bogor. Agenda ini resmi dibuka pada Senin, 11 Nopember 2013 dan diagendakan akan berlangsung kurang lebih selama tiga minggu.
            Menurut saudara Anas selaku ketua pelaksana menyebutkan dalam kata sambutannya “kompor adalah ajang untuk mengasah kemampuan, refreshing pasca UTS, meningkatkan jiwa sportifitas dan semangat berkompetsi, serta mempererat tali silaturahmi antar mahasiswa, civitas akademik, dan alumni.
            Adapun beberapa cabang olahraga yang diperlombakan, yaitu futsal, basket, bulu tangkis, tenis meja, catur, lari marathon, lari jarak 100 meter, dan senam. Perwakilan mahasiswa dari setiap kelas, civitas akademik, dan alumni mengirimkan atlet terbaiknya dalam ajang ini. dalam ajang ini para atlet yang telah didelegasikan berusaha untuk merebut piala bergilir kompor.

            Anas juga menambahkan “agar para peserta dapat mengaplikasikan jiwa sportif dan semangat berkompetisi dalam kehidupan sehari-hari”. (shinta)

terbit di Radar Bogor, rubrik Radar Kampus

Pendidikan Anti Korupsi

Citra Indonesia memang makin terpuruk karena meningkatnya jumlah kasus korupsi di negeri ini. Kehadiran kasus korupsi di tanah air ini, kini makin meningkat dari waktu ke waktu. Bahkan korupsi seolah-olah menjadi sebuah tradisi yang amat sulit untuk diberantas. Dan hal ini jelas merugikan bangsa Indonesia dari segi financial hingga mental.
            Mahasiswa yang sering kali disebut sebagai agen perubahan sudah sewajarnya lah turut serta dalam membantu pemerintah untuk memberantas korupsi. Keterlibatan mahasiswa tentu lah bukan pada upaya penindakan yang merupakan kewenangan institusi penegak hukum. Namun lebih kepada pencegahan dengan turut membangun budaya anti korupsi dalam kehidupan bermasyarakat.
            Dikutip dari laman resmi ACCH (Anti Coruption Clearing House), dalam melakukan upaya pencegahan korupsi, KPK melaksanakan program pendidikan antikorupsi pada berbagai jenjang tingkat pendidikan, dari mulai TK, SD, SMP, SMU, hingga Perguruan Tinggi. Selain itu, KPK merancang program Anti-Corruption Learning Center (ACLC) untuk semua lapisan masyarakat, mulai dari Ormas, asosiasi profesi, LSM, Pegawai Negeri Sipil (penyelenggara negara),  perusahaan BUMN, perusahaan swasta, dan lain-lain. Target pendidikan antikorupsi adalah membangun generasi baru antikorupsi. 
            Dan belum lama ini KPK bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali menggelar Training of Trainers (ToT) Pendidikan Antikorupsi yang melibatkan para dosen dari berbagai perguruan tinggi. Agenda ini direncakan akan dilaksanakan sepanjang tahun 2013 di 8 regional. Tujuan dari dilaksanakannya TOT Pendidikan Anti Korupsi ini adalah untuk memberikan pembekalan bagi para dosen dan memberikan presepsi yang sama tentang pengertian, penanganan dan pemberantasan korupsi di Indonesia melalui Pendidikan Anti Korupsi kepada para Mahasiswa. (shinta)

terbit di Radar Bogor, rubrik Radar Kampus


PERMEN ANTI KANKER

Komunitas Eks-Kim (Eksperimen Kimia) Akademi Kimia Analisis kembali menorehkan karyanya. Penemuan kali ini berasal dari dunia teknologi pangan dan kesehatan. Permen anti kanker, adalah hasil eksperimen yang berhasil ditemukan oleh komunitas ini. Ide pembuatan permen anti kanker ini berawal dari keprihatinan akan realita kasus kanker yang kian meningkat tiap tahunnya. Menurut Ludhy selaku ketua Aks-Kim “Penyajian dalam bentuk permen pun diharapkan agar mudah dikonsumsi dan dapat dinikmati oleh semua umur”.
            Pembuatan permen anti kanker ini memang terbilang sulit, dibutuhkan bahan-bahan dan alat khusus, serta teknik yang rumit. Pembuatannya pun terbilang cukup lama, yaitu 9 hari waktu pengerjaan. Bahan baku dari permen anti kanker ini adalah daun pohpoh, sejenis lalapan. Daun pohpohan (Pilea Trinervia Wights) ini mengandung zat flavonoid yang tinggi sehingga cocok dijadikan sebagai bahan baku permen anti kanker.
            Awalnya daun pohpohan ini dicuci bersih, kemudian dicacah halus. Lalu dikeringkan hingga seperti the. Direndam dengan pelarut organik selama minimal 3 hari, sampai terbentuk larutan berwarna hijau tua. Kemudian disaring untuk diambil filtratnya. Kemudian filtrat di ekstraksi menggunakan 3 pelarut, masing-masing pelarut membutuhkan waktu pengerjaan minimal 24 jam. Setelah diekstraksi larutas didestilasi hingga didapatkan larutan yang diinginkan. Karena proses pengerjaan yang cukup panjang dan sulit, dari 3 ikat daun pohpohan dihasilkan sekitar 20 mL larutan zat anti kanker. Namun, larutan ini masih terasa pahit sehingga perlu ditambahkan pemanis sorbitol kemudian dikristalkan menjadi permen.

            Ludhy berharap dengan adanya penemuan permen anti kanker ini dapat meminimalisir terjadinya kasus kanker. Beliau juga berharap permen anti kanker ini dapat diproduksi secara masal sehingga dapat dinikmati oleh banyak orang. (shinta)

terbit di Radar Bogor, rubrik Radar Kampus

INOVASI DARI KULIT PISANG

Siapa sangka kalau limbah kulit pisang yang kerap kali dianggap sebelah mata, kini dapat kita manfaatkan dengan sejuta keuntungan. Nata de banana adalah salah satu olahan yang berhasil dibuat dengan bahan baku kuli pisang. Komunitas Eks-Kim Akademi Kimia Analisis Bogor menyulap limbah kulit pisang menjadi olahan yang manis dan nikmat. Ide ini muncul ketika membeli gorengan, dan melihat betapa banyaknya limbah kulit pisang yang dibuang begitu saja. Selain sayang akan kulit pisang yang dibuang begitu saja, tentu saja hal ini dapat menimbulkan pencemaran lingkungan walaupun kulit pisang merupakan bahan yang mudah terdegradasi.
            Menurut Ludhy Anshory selaku ketua komunitas ini, “Pengerjaan Nata de Banana ini membutuhkan waktu pengerjaan yang cukup lama dalam proses fermentasi. Namun dalam proses pengolahan ini bukanlah hal yang sulit dan bisa dilakukan dalam industry rumahan”.

            Pengerjaan prosuk yang satu ini bukanlah tanpa kendala, Ludhy mengaku mengalami tiga kali kegagalan. Kegagalan ini diantaranya disebabkan oleh masih terkandungnya bijih pisang, kurang sterilnya alat dan bahan, serta kesalahan dalam penambahan bakteri. Namun kesalahan-kesalahan ini dapat dihadapi dan akhirnya terciptalah sebuah produk Nata de banana. Bukan hanya inovasi berbahan baku limbah kulit pisang. Komunitas ini juga melebarkan inovasinya dengan bahan baku kulit nanas. (shinta)

terbit di Radar Bogor, rubrik Radar Kampus

Rok Kini Semakin Digemari

Siapa yang tak kenal dengan benda yang satu ini, rok. Pakaian yang sangat identik dengan wanita ini kini semakin digemari. Modelnya yang semakin beragam, membuat rok menjadi dambaan kaum hawa. Kesan feminin yang ditimbulkan pun menjadi daya tarik tersendiri bagi penggunanya. Bahan dan desain yang beraneka ragam, sangat membantu para pecinta fashion dalam memadu-padankan busana.
            Rok jeans menjadi idaman para mahasiswa, selain karena modelnya tak lekang oleh waktu bahan jeans pun tidak mudah kotor. Menurut Indah salah satu mahasiswi “rok jeans itu rata-rata cocok dengan atasan apa aja. Lagipula netral untuk dipakai bersama atasan warna apa saja”.
            Rok berbahan dasar chiffon pun semakin sering dicari oleh kalangan muda. Warnanya yang beragam dengan tekstur tipis dilengkapi furing, menjadi daya tarik dari rok yang cepat kering ini. Menurut Dyah salah satu siswa SMA negeri di Bogor yang ditemui beberapa lalu mengaku memilih rok chiffon karena dapat membuatnya terlihat lebih kurus dari aslinya. Selain itu warna soft dari chiffon memberi kesan feminine.

            Oposisi dari rok chiffon, rok berbahan dasar spandek membuat pemakainya terlihat lebih berisi. Walaupun dengan rok berbahan dasar spandek lebih nyaman untuk digunakan dan lebih leluasa untuk bergerak. Rok berbahan dasar spandek ini masih jarang digunakan. Karena faktor bahan spandek yang dapat membuat penggunanya terlihat lebih berisi. (shinta)

terbit di Radar Bogor, rubrik Radar Kampus