Kamis, 11 Juli 2013

Liburan Bermanfaat

Libur telah tiba!

            Wah, udah masuk waktunya liburan nih buat para mahasiswa. Liburan merupakan waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian besar mahasiwa. Dimana kejenuhan akan bangku perkuliahan bisa sejenak ditinggalkan. Belum lagi UAS yang merupakan fase pengantar menuju waktu liburan, cukup menguras mental, dan energi. Hal ini lah yang membuat liburan dianggap sebagai best part nya buat para mahasiwa.
            Liburan memiliki peran penting bagi tiap individu. Pemanfaatannya pun berbeda-beda, mulai hanya berdiam diri di kos sampai menghabiskan sejumlah uang demi sebuah perjalanan yang menyenangkan. Sebenernya lebih banyak hal positif yang bisa kalian lakukan untuk mengisi waktu liburan yang berharga ini. Menurut Rangga Ratriasa, Mahasiswa di salah satu Universitas di Lampung yang  juga bekerja sebagai PNS di BPK RI menyebutkan “ Liburan adalah Li (Luaskan Imajinasimu), Bu (Bunuh Jemumu), Ran (Raih Kesenanganmu). Dan dibawah ini beberapa tips yang bisa kalian lakukan untuk mengisi waktu liburan dengan hal-hal yang positif.
1.      Travelling
Jalan-jalan merupakan aktivitas yang paling dominan dilakukan oleh para mahasiwa, mulai dari budget yang seminim mungkin sampai dengan mengorek pundi-pundi tabungan. Travelling merupakan salah satu kegiatan positif untuk mengisi liburan, selain bisa me-refresh otak hal ini juga bisa disisipi kegiatan yang bermanfaat lainnya seperti silaturahmi.

2.      Pulang Kampung
Buat para perantau yang jauh dari tanah kelahiran, pulang kampung adalah tujuan utama untuk memanfaatkan waktu liburan. Menemui sanak keluarga adalah moment spesial yang sangat ditunggu-tunggu para perantau. Moment spesial bukan hanya dirasakan para perantau, tapi juga bagi para sanak keluarga yang menunggu.

3.      Mengembangkan Hobi
Setiap orang pasti memiliki hobi, dan liburan merupakan waktu yang tepat untuk menyalurkan hobi. Baik hobi yang dilakukan secara individu bahkan dalam skala organisasi. Karena tak jarang hobi bisa mendatangkan penghasilan. Dan dari hal ini, dua sisi positif bisa didapatkan.

Manfaatkanlah waktu liburmu sebaik-baiknya, karena waktu libur tidak akan datang untuk kedua kalinya

terbit di Radar Bogor, rubrik Radar Kampus

Biodiesel Sawit

Sering kali orang beranggapan bahwa minyak sisa menggoreng atau yang biasa kita sebut minyak jelantah itu sudah tidak ada lagi gunanya. Rata-rata pengguna minyak sawit, langsung membuang minyak sisa hasil menggoreng setelah digunakan maksimal tiga kali penggorengan. Oleh karena itu, Mahasiswa Akademi Kimia Analisis Bogor yang tergabung dalam komunitas Eks-Kim (Eksperimen Kimia) mencoba memanfaatkan limbah rumah tangga yang melimpah ini menjadi sebuah olahan yang bermanfaat. Bahan bakar dari minyak nabati (biodiesel) dikenal sebagai produk yang ramah lingkungan, tidak mencemari udara, mudah terbiodegradasi, dan berasal dari bahan baku yang dapat diperbaharui.
Mudah dan murah, dua hal ini juga lah yang melatar belakangi pembuatan biodiesel sederhana ini. Selain bahan baku mudah didapat, proses pembuatannya pun bisa dilakukan dalam skala rumah tangga. Bahan-bahan yang dibutukan adalah minyak jelantah, NaOH (soda kaustik), dan alkohol (etanol). Pertama-tama minyak jelantah dipansakan hingga suhu sekitar 65°C. Kemudian masukkan NaOH yang telah dilarutkan didalam air ke dalam minyak yang telah dipanaskan, aduk rata. Lalu, tambahkan alkohol kedalam campuran dan aduk rata lagi. Matikan api, dan tunggu sejenak hingga dingin. Lalu, larutan disaring dan biodiesel kelapa sawit siap untuk digunakan.
“Sebenarnya telah banyak yang melakukan percobaan ini, namun kami mencoba berinovasi dalam metode yang dilakukan” ujar Ludhy selaku ketua komunitas ini. Beliau juga berharap agar lebih banyak lagi masyarakat yang beralih menggunakan biodiesel sebagai sumber bahan bakar. Selain mudah dan murah, biodiesel juga ramah terhadap lingkungan. Ditengah Pro dan Kontra terhadap kenaikan harga BBM, biodiesel bisa jadi salah satu solusi dari masalah yang ada. (shinta)



terbit di Radar Bogor, rubrik Radar Kampus

PPBY Eksis dalam Berbagi

Pelaksana Program Beasiswa Yatim Dhu’afa (PPBY),  yakni program pemberian bantuan pendidikan dari para donatur kepada siswa yang berstatus Yatim/Dhu’afa, namun berprestasi dalam bidang akademik. Sesuai dengan namanya, PPBY merupakan organisasi yang bergerak dalam bidang sosial keagamaan, khususnya bidang pendidikan. PPBY berstatus Badan Semi Otonom ( BSO ) di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Dakwah Kampus Keluarga Muslim AKA  dalam hal kegiatan, keuangan, kepengurusan, dan administrasi.

Program utama dari PBBY, dan sekaligus merupakan keunggulan dari PPBY ialah memberikan bantuan dalam hal pendanaan pendidikan kepada anak-anak yatim dhuafa yang memiliki minat besar untuk belajar namun terkendala masalah finansial. Bukan hanya mendanai pada biaya sekolah, PPBY juga membiayai fasilitas-fasilitas yang mendukung pembelajaran, uang saku perbulan, hingga biaya kesehatan. Bantuan ini diberikan secara terus-menerus kepada adik asuh dari SD hingga lulus SMA.

Disamping itu, kegiatan lainnya dari PPBY ialah pembinaan keislaman terhadap adik-adik asuh. Kegiatan ini bertujuan untuk menecetak generasi muda yang berakhlak islami. Pembinaan keislaman ini dilakukan berupa mentoring bagi adik asuh yang dilaksanakan setiap minggu. Bukan hanya berkecimpung dalam ruang lingkup adik asuh, PPBY juga memiliki kegiatan yang tak kalah hebatnya “PPBY Mengajar”. PPBY mengajar merupakan salah satu program kerja rutin yang dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu di kampung sekitar Kampus AKA.

Walaupun sudah berdiri sejak tahun 1986, PPBY tetap menunjukkan eksistensi dan konsistensinya dalam bidang sosial. Terbukti dengan ratusan adik asuh yang telah lulus SMA berkat kerja keras anggota PPBY bahkan alumni.



terbit di Radar Bogor, rubrik Radar Kampus

JURNALIKA PIONER PEMBERITAAN AKA BOGOR DAN SEKITARNYA

Tepatnya pada 16 April tahun ini, Jurnalika (Jurnalistik Akademi Kimia Analisis Bogor) genap berusia 17 tahun. Di usia yang sudah menginjak remaja ini Jurnalika tetap setia dalam mewadahi minat dan bakat masyarakat pada umumnya dan civitas akademik AKA Bogor pada khususnya dalam bidang Jurnalistik. Bukan hanya menyajikan berita internal kampus, Jurnalika juga menghadirkan berita regional, nasional, bahkan internasional. Dengan beranggotakan 42 orang, Jurnalika menyiapkan dan menyajikan berita yang aktual, objektif, netral, dan terpercaya.


Sekilas tentang Jurnalika, Reportase merupakan divisi yang dibawahi oleh Pimpinan Redaksi bertugas untuk mencari dan menulis berita. Kemudian masih di bawah Pimpinan Redaksi terdapat Explosive (mading) dan On-Line (majalah) sebagai media penyaluran berita kepada masyarakat. Masih di garis komando dan koordinasi yang sama, terdapat pimpinan perusahaan yang mengomandoi divisi Humas dan Dana Usaha. Humas merupakan divisi yang secara khususnya berhubungan dengan internal maupun eksternal kampus. Sedangkan Dana Usaha sendiri merupakan salah satu penyokong dana secara mandiri demi kelancaran kegiatan Jurnalika. Terdapat juga KPSDM yang bertugas mengkaderisasi semua anggota Jurnalika. Serta DP yang bertugas mengomandoi dan mengawasi ketua.
            Bukan hanya sekedar menyajikan berita, Pers Kampus satu ini juga memiliki beberapa program kerja non rutin tahunan baik itu organisasi maupun bebas. Jurnalika Fair merupakan salah satu contoh program kerja non rutin bebas yang dilaksanakan tiap tahun. Untuk Jurnalika Fair tahun ini yang telah dilaksanakan pada 26 Januari 2013 diikuti oleh puluhan SMA dan Perguruan Tinggi Se-Indonesia. Jurnalika Fair merupakan ajang terbesar tahunan dari Jurnalika yang berisikan perlombaan menulis cerpen, membuat film pendek, dan fotografi. Selain itu juga ada talk show jurnalistik, dan bedah buku dari beberapa tokoh nasional.
            Ketua Jurnalika, Barik Maftuhin menyampaikan  “Jurnalika bertugas untuk mengcover berita kampus dan bogor pada khususnya agar berita yang beredar baik, sehat, dan benar”. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa berita adalah bagian dari hidup yang ada bahkan akan selalu ada dalam setiap detiknya. Kebenaran dan kejelasan berita merupakan hal yang sangat penting, karena dengan penyampaian berita yang tidak sesuai dapat menimbulkan dampak buruk pada dunia.




Jurnalika, Kami bangga jadi pers kampus!

terbit di Radar Bogor, rubrik Radar Kampus

Senin, 01 Juli 2013

saat usia bukan merupakan tolak ukur kedewasaan

aku adalah seorang remaja yang sedang menempuh study ku di bangku setara universitas. umurku sekarang telah menginjak 16 tahun, cukup dewasa. cukup dewasa untuk mengetahui yang mana yang benar dan yang mana yang salah. cukup dewasa untuk dapat mengambil sikap sesuai dengan situasi dan kondisi. cukup dewasa untuk berani berkata iya atau tidak dalam mengambil sebuah keputusan.

namun ternyata kedewasaan itu belum berkenan menghampiriku. kedewasaan itu belum tertanam dalam jiwa yang mungil ini. kedewasaan itu masih berada sangat jauh dari diri yang terpencil ini. masih sangat jauh bahkan aku sendiri pun tak tahu seberapa panjang yang memisahkan dan seberapa panjang waktu yang akan kuhabiskan untuk mendapatkan sebuah kedewasaan itu.

terkadang bahkan sering kali terbesit dalam pikiranku betapa bahagianya menjadi anak kecil atau balita yang sebagian besar waktunya dihabiskan tanpa beban.
aku masih ingin merasakan rintikan hujan membasahi tubuhku secara langsung.
berlarian sekencang-kencangnya, dan merasakan desiran angin menerpa wajahku.
aku masih ingin menangis ketika ku terjatuh.
tertawa ketika ku mendapatkan apa yang aku inginkan.
aku masih ingin melakukan hal-hal kecil yang mustahil dan tidak wajar untuk aku lakukan saat ini, ketika umurku jauh lebih dewasa dari umur anak-anak yang biasanya melakukan hal ini.

aku ingat, ketika aku menginjak bangku SD aku menginginkan secepatnya mengenakan baju putih abu-abu dan berarti aku adalah siswi Sekolah menengah pertama. banyak hal menarik yang aku pikir akan kudapati. dimana itu adalah kali pertama aku menaiki angkutan umum tanpa pengawasan orang tua adalah sesuatu hal yang luar biasa bagiku.

lalu, ketika aku SMP aku sangat menginginkan secepatnya naik ke jenjang SMA. yang ada dibenakku hanyalah sebuah romansa manis yang sering kai kudapati dalam novel remaja ataupun sebuah cerita FTV. dimana disanalah aku menemukan arti sebuah persahabatan.

dan ketika aku jenuh berada di bangku SMA, aku ingin merasakan indahnya menjadi seorang mahasiswa. merantau, mengenakan pakaian non seragam, bertemu dengan orang-orang baru, menyandang gelar seorang mahasiswa. ini lah sudut pandang kecilku akan indahnya bangku kuliah.

namun untuk saat ini aku benar-benar jenuh dengan segala rutinitas yang biasa aku jalani. kuliah, praktikum, laporan, organisasi, rantauan.
benar-benar jenuh sehingga membuatku berfikir andai aku adalah anak-anak yang masih bisa menikmati apa yang tidak bisa kembali aku nikmati sekarang.

tulisan versi maba : autobiografi

            Hari Jum’at tanggal 10 Januari 1997,  atau tanggal 1 Ramadhan, yang sepertinya pada tahun 1418 Hijriah, pada pukul 11.15 WIB aku terlahir di dunia ini. Lahir dari pasangan orang tua yang sederhana namun tetap luar biasa dimataku. Aku terlahir dari kedua orang tua yang masih setia satu sama lain sampai sekarang dan aku harapkan sampai nanti di keabadian. Aku tak pernah terfikir, bahkan tak pernah berharap untuk terlahir didunia ini. Terlahir didunia yang menurutku penuh akan ujian. Aku terlahir berkat seorang Bapak pekerja keras yang menanamkan benih di rahim Mamaku, Guritno namanya. Dan aku juga terlahir dari rahim seorang Mama yang dengan sabarnya mengandungku selama 9 bulan lamanya, Endah Setiawati namanya. Menurut mamaku Aku adalah anak yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya di muka bumi oleh kedua orang tuaku. Karena jarak umurku dan Masku tujuh tahun. Mama dan Bapakku pernah berfikir jika hanya dititipkan satu orang anak oleh yang Maha Kuasa yaitu Masku, namun Tuhan menjawab doa mereka berupa dilahirkannya seorang aku.
            Selain orang tuaku, aku juga memiliki sosok yang sangat berjasa dalam kehidupanku. Mbok Siti biasanya aku panggil. Dia merupakan pengasuhku sewaktu kecil. Dia selalu sabar dalam mengawasiku. Dia bukan hanya mengawasiku, tapi juga membimbingku akan banyak hal. Hal yang paling aku ingat adalah pelajaran membaca. Dia mendidikku membaca dengan sangat sabar. Dimulai dari mengenal abjad, menghafal abjad, mengeja, hingga bisa membaca. Aku mulai diajari beliau membaca saat usia satu setengah tahun. Metode yang paling sering beliau terapkan kepadaku adalah belajar sambil bermain. Biasanya beliau menulis sebuah kata dikaca bagian belakang mobil yang sudah agak berdebu. Kata-kata yang paling aku ingat adalah “roda”. Er-o-ro-de-a-da-roda. Ejaan yang bisa membuatku bisa membaca pada umur dua setengah tahun. Terima kasih mbok Siti, terima kasih atas semua yang telah engkau ajarkan. Terima kasih atas pelajaran membaca yang sederhana namun sangat berharga. Berkat keikhlasanmu, aku bisa menulis autobiografi seperti sekarang ini.
            Pada umur tiga setengah tahun, itu pertama kalinya aku mendapatkan pendidikan formal. Aku mendapatkan pendidikan formal itu di TK Harapan Bunda Palembang. Banyak hal yang aku dapatkan di TK ku itu, dari mulai berinteraksi dengan sesama, sampai hal-hal yang menggunakan otak. Aku bukanlah orang yang mudah bersosialisasi. Pada masa TK aku hanya memiliki satu teman Dhimas namanya. Waktu aku menduduki jenjang TK, aku biasa diasuh oleh tetanggaku. Aku biasa memanggil beliau Mbak Yatik. Mbak Yatik yang biasanya mengantar, dan menjemputku semasa TK. Mama dan Bapakku bekerja di Instasi yang mengikat, sehingga tak memiliki waktu untuk mengantar dan menjemputku ke sekolah.
            Masa TK adalah masa yang paling menyenangkan menurutku, tidak ada beban, tidak ada tuntutan. Kita belajar sambil bermain. Belajar hal yang sangat mendasar, seperti menggunting, membuat lingkarang, membuat garis, mewarnai, dan lain-lain. Wali kelasku waktu TK adalah Ibu Nini dan Ibu Asma. Sampai sekarang, Ibu Nini masih mengajar di TK ku, tapi tidak tahu kalau ibu Asma. Pada masa TK banyak diadakan even yang membuat murid terpacu semangat dan kepercayaan dirinya. Seperti polisi cilik, parade cilik, festival profesi cilik, lomba-lomba, pertunjukan hewan-hewan jinak, dan lain-lai. Hal ini sangat mengasyikkan, dan mungkin hanya dapat aku rasakan ketika TK. Sekitar setahun sudah menjalani masa TK, aku lulus dan mendapatkan ijazah. Pada awalnya, mamaku menginginkan aku untuk masuk TK selama dua tahun yaitu nol kecil, dan nol besar. Namun aku ditolak oleh TK ku, dengan alasan akan mengganggu yang lainnya belajar. Karena aku dianggap aku sudah mampu untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya.
            Pertamanya mamaku khawatir, apakah ada SD yang mau anak empat tahun setengah untuk bersekolah. Untungnya aku memiliki tetangga yang bekerja di SDN 586 (namanya sekarang menjadi SDN 114) Palembang. Mamaku menitipkanku di SDN 586 itu hanya sekedar untuk numpang belajar dengan menuakan umurku atu tahun. Namun ternyata pada semester dua kenaikan kelas aku mendapatkan raport hasil belajar, dan aku bisa mengikuti pelajaran sebagai siswi di sekolah tersebut. Karena aku tidak ingat hal apa yang telah aku lalui selama aku duduk dikelas satu SD, jadi langsung saja aku ceritakan masa aku dikelas dua SD.
Hal yang paling aku ingat pada masa kelas dua SD adalah pertama kali belajar sempoa. SD aku dulu memfasilitasi anak muridnya yang mau belajar sempoa. Sempoaku berbeda dengan sempoa yang beredar dipasaran sekarang. Sempoa milikku dulu terbuat dari kayu.pertemuan pertama kami diajarkan arti dari tiap manik yang ada disempoa, hingga diajarkan teknik tangan untuk penggunaan sempoa. Hari pertama berlangsung dengan lancar dan kami diberikan pekerjaan rumah berupa satu halaman soal yang mungkin terdiri dari seratus soal yang harus diselesaikan dan dikumpul esok hari. Sesampai dirumah aku mencoba menggunakan sempoaku, hanya kebingungan yang aku dapatkan. Bolak-balik aku memutar pikiran untuk menggunakan sempoa ini, namun tetap tak berhasil. Alhasil karena melihat soalnya sederhana seperti satu ditambah dua, tiga dikurang satu, empat ditambah dua, aku mengerjakan pekerjaan rumahku itu secara manual. Jujur, sampai sekarang aku masih kurang mengerti cara penggunaan sempoa.
Pada saat kelas tiga SD aku memiliki pengalaman unik yang membuatku ingat sampai sekarang, yaitu wali kelasku Ibu Ijah namanya. Ibu Ijah adalah guru yang paling killer semasa SD ku. Beliau tidak segan melakukan kekerasan kepada siswa/i nya namun dilandasi dengan alasan demi mendidik anak muridnya menjadi lebih disiplin. Hukuman yang biasanya ia berikan kepada muridnya apabila melanggar peraturan adalah dengan memukul telapak tangan muridnya dengan rotan. Aku akui itu sangat amat teramat sakit, namun harus juga aku akui itu membentuk kedisplinanku menjadi lebih baik. Peraturan yang ia terapkan dan harus aku patuhi yaitu, membuat hari dan tanggal pada setiap catatan dan latihan yang di berikan, membuat tulisan nomor diatas baris nomor, mengkotakkan setiap jawaban dari latihan-latihan, membuatgaris tepi pada setiap catatan dan latihan, membuat kolom dengan tulisan N, T, K, dengan N untuk kolom nilai, T untuk nilai kerapian menulis, dan K untuk nilai kebersihan tulisan. Ibu ijah masih memiliki banyak peraturan lainnya, namun biasanya apabila kita menaati peraturan tersebut beliau memberikan hadiah. Seperti barisan terapi, tertenang, dan terbersih beliau akan memulangkan barisan itu terlebih dahulu. Sama halnya seperti perkalian satu sampai sepuluh, setiap masuk dan pulang sekolah kami biasanya di tes untuk menghapal perkalian. Bagi yang bisa menghafal terlebih dahulu diizinkan pulang lebih awal dari pada yang belum menghafal perkalian. Dan menurutku apa yang dilakukan Ibu Ijah berhasil membuatku hafal perkalian satu sampai sepuluh hingga sekarang.
Aku tak banyak mengingat kenangan SD ku waktu kelas empat, lima, dan enam SD. Sehingga langsung saja aku bahas tentang perjuanganku untuk masuk SMP yang dari kelas empat SD aku idam-idamkan. SMPN 9 palembang namanya, dari semenjak aku SD sudah tersohor namanya. Jarak dari rumah ke SMPku memang lumayan jauh, sehingga banyak yang bilang buat apa masuk ke SMP yang jauh-jauh dari rumah, toh sama saja. Namun aku tetap bertekad untuk dapat lulus di SMP itu. Pada hari pengumuman hasil ujian masuk SMP itu aku ragu untuk melihat hasilnya sendiri, mengingat jumlah kuota dan pendaftar yang semakin membuatku pesimis. Sehingga, aku minta tolong temanku untuk meihatkan hasilnya. Dan Alhamdulillah, kabar yang ia berikan sangat memuaskan aku siswi SMPN 9 Palembang saat itu.
Tak ada yang menarik dalam kehidupanku semasa SMP kelas tujuh dan delapan. Entah, mungkin aku lupa hal menarik yang mungkin sudah pernah aku lewati. Langsung saja aku bahas persiapan UN dan masuk SMA. Waktu itu aku duduk di kelas Sembilan-empat. Sembilan-empat biasa kami sebut “sempatis” Sembilan empat autis. Entah siapa yang memilihkan nama itu, tapi tetap teringat bagaimana perjuangan kami dulu dapat lulus UN dengan nilai yang memuaskan dan masuk SMA favorit masing-masing. Sebelum tes UN SMP aku dan teman-temanku mencoba peruntungan untuk tes dibeberapa SMA unggulan yang melaksanakan tesnya lebih awal, seperti SMAN 17 Palembang, SMAN 6 Palembang, SMAN 5 Palembang, dan MAN 3 Palembang. Pertamanya aku ikut tes di SMAN 17 Palembang, segala rangkaian ujian tes telah aku ikuti dari mulai awal tes tertulis yang memutar otak tapi Alhamdulillah aku lulus tahap itu. Dilanjutkan dengan tes IQ, TOEFL, debat bahasa Inggris dengan ketiga guru disana, dan wawancara tentang keagamaan; kepribadian; kesopanan; dan aku lupa satunya lagi apa Alhamdulillah aku lulus dari semua tahap itu. Namun aku gagal pada tahap terakhir wawancara berjamaah bersama Kepala Sekolah yang menyebabkanku duduk di daftar cadangan nomor delapan disekolah itu. Pada awalnya aku berfikir apa kesalahanku sehingga perjuangan terakhirku itu gagal, seingatku Kepala Sekolahnya hanya memberikan pertanyaan nama, asal sekolah, pekerjaan orang tua, dan cita-cita. Jujur aku merasa sangat terpukul saat itu karena disaat aku yakin lulus di SMA itu aku gagal.
Pada hari yang sama saat pengumuman final di SMAN 17 Palembang, aku sedang mengantri giliran wawancara di MAN 3 Palembang. Aku mendapatkan kabar yang cukup membuatku kecewa itu melalui telepon dari Masku. Pada awalnya aku merasa gagal dalam menggapai cita-citaku. Cita-cita yang sudah aku inginkan dari kelas lima SD. Sampai akhirnya aku lulus di MAN3, dan kami diberikan waktu lima lima hari untuk membayar uang sejumlah dua juta rupiah untuk biasay tes IQ, TOEFL, pakaian dan lain-lain. Hari terakhir membayar uang tersebut adalah hari Jum’at, dan hari Kamis adalah hari dimana pengumuman pemanggilan cadangan dari SMAN 17 Palembang. Dari orang tuaku mereka lebih memilih aku untuk bersekolah di SMAN 17 Palembang, namun aku sudah terlanjur kecewa akan anganku. Sehingga, pada hari Rabu aku menyuruh kedua orang tuaku untuk membayarakan uang kepada  MAN 3. Hal itu aku lakukan, apabila aku ternyata dipanggil SMAN 17 dan dinyatakan lulus, aku tetap memilih MAN 3 karena sudah menyetorkan sejumlah uang. Dan ternyata setelah menyetorkan sejumlah uang tersebut, aku dipanggil SMAN 17 dan dinyatakan luus sebagai murid disitu.
Jelas nampak keinginan orang tuaku untuk aku tetap bersekolah di SMAN 17 itu, karena pada awalnya kedua orang tuaku memandang rendah Madrasah yang cenderung terbelakang. Namun, setelah aku ajak melihat MAN 3 Palembang, keraguan itu langsung pudar. Melihat fasilitas, dan tenaga pengajar yang berkualitas membuat restu dari kedua orang tua untuk belajar di MAN 3 Palembang aku dapatkan. Aku bertekad dalam diri sendiri untuk dapat masuk kelas Akselerasi demi membahagiakan orang tua. Serangkaian tes telah aku lewati dan Alhamdulillah aku lulus di kelas Akselerasi.
Dan setelah kejadian itu aku yakin bahwa saat tuhan menjawab doamu dia meminta imanmu, saat tuhan belum menjawab doamu dia meminta kesabaranmu, dan saat tuhan menjawab tapi bukan doamu dia memilihkan yang terbaik untukmu. Aku yakin MAN 3 Palembang adalah jalan terbaik yang dipilihkan tuhan untukku. Dan alamdulillah aku dapat bergabung dikelas Akselerasi MAN 3 Palembang.
Dikelas akselerasi yang biasa kami sebut dengan kelas Semester Pendek (SP) aku mengenal teman-teman yang memiliki berbagai macam watak. Disini aku belajar bagaimana cara bersahabat, merasakan saling memiliki seperti kelarga, sampai hal percintaan. Percintaan yang sangat lucu apabila aku ingat kembali. Ada sukanya, tapi lebih banyak dukanya. Tapi itu menjadikan sebuah pelajaran, dan membuat keimanan dan pengetahuanku akan agama Islam bertambah. Mengingat pasanganku waktu itu adalah lulusan dari pesantren, sehingga aku tertular perilaku alimnya. Seperti pepatah apabila berteman dengan tukang jual minyak wangi, kau akan ikutan wangi. Hingga akhirnya aku diputuskan olehnya karena alasan takut dengan Allah. Pada awalnya aku berfikir, kenapa dia memulai kalau ternyata hars diakhiri. Kenapa pada awalnya ia tak takut, tapi setelah aku fikir-fikir itu semua benar.
Semua hal aku lakukan bersama di kelas SP itu. Belajar, bermain, bercanda, makan, tidur, ngobrol, dan lain-lain secara bersama. Aku merasakan mereka seperti keluargaku sendiri. Selain teman sekelasku aku juga memiliki keluarga kecil lainnya didalam asrama yaitu teman satu kamarku. Kamar kami diberi nama “primitive” karena dianggap orang yang berada dikamar itu semuanya aneh. Senang sedih kami lalui bersama. Kebahagaiaan hingga ketakutan kami lalaui bersama satu tahun. Kebahagiaan karena bolos dari sholat berjamaah. Kebahagiaan karena kabur dari kerja bakti mingguan. Kebahagiaan karena sembunyi saat kegiatan barzanji. Kebahagiaan akan hal-hal yang mungkin tak dapat aku rasakan lagi. Begitu juga ketakutan yang dilalui bersama saat ketauan bolos dari sholat berjamaah, kabur bakti mingguan, sembunyi dari barzanji, ketauan bawak hape dan lain-lain. Sehingga banyak hal lainnya yang mungkin tak bisa aku sebutkan satu persatu di autobiografi ini.
Langsung saja ya aku bahas tentang testimoni masuk di Akademi Kimia Analisis ini. Pada awalnya tiap malam sebelum UN aku hanya bermain internet untuk sekedar bermain Facebook, Twitter, My Space, dan lain-lain. Dan beruntungnya aku membaca sebuah tweet dari salah satu akun yang berisikan tentang ujian masuk lewat jalur Raport dari AKABO. Pertamanya telah dari jauh-jauh hari aku mengisi formulir AKA secara online namun aku ragu apakah aku diperbolehkan oleh orang tua untuk mengikuti tes raport AKA. Hingga sekitar tiga minggu kemudian, aku kembali mengisi formulir AKA secara online untuk kedua kalinya. Setelah mengisi formulir AKA, aku menghadap kedua orangtua ku untuk meminta izin mendaftar AKA. Keraguan pada awalnya menghampiri orang tuaku, namun setelah browsing di internet tentang AKA keraguan itupun terhapuskan.
Kedua orang tuaku sebenarnya masih mengharapkan aku untuk lulus jalur undangan, namun aku lebih condong memilih untuk masuk AKA. Aku lebih condong masuk AKA karena mendengar cerita tentang AKA dari Kak Akbar, dan Kak Anggun, AKA itu lebih menjanjikan dalam bursa kerja. Mengingat jalur undangan kebanyakan lulus pada pilihan pertama, dan aku memilih Teknik Mesin – ITS itu membuatku pesimis lulus dari jalur undangan. Dan pada akhirnya setelah pengumuman AKA keluar, aku kecewa karena tidak lulus. Terlihat hanya ada empat puluh orang yang lulus AKA. Sedih jelas aku rasakan. Orang tuaku hanya berkata padaku “sudah gak papa, bukan jalannya”. Namun, setelah aku unduh filenya ternyata itu dari jalur undangan, bukan raport.

Setelah menunggu beberapa hari, pengumumamn raport yang ditunggu-tunggu pun keluar. Aku mulai membuka laptop dan mengunduh pengumuman raport AKA setelah ashar. Namun, hingga pukul setengah sembilan malam aku belum bisa mengunduh file itu. Kegalauan yang hanya aku rasakan. Ini gangguan jaringan, atau terlalu banyak yang sedang membuka web AKA. Akhirnya aku bosan, dan mulai bermain jejaring social. Aku online kan percakapanku di Facebook, lalu aku temukan beberapa teman dan minta tolong untuk membukakan pengumuman itu. Aku juga mencari teman di Twitter untuk minta tolong membukakan pengumuman itu juga. Alhasil dari sebanyak sebelas orang yang aku mintai tolong,  ada dua yang berhasil membuka hasil pengumman itu. Dan Alhamdulillah aku lulus sebagai mahasiswi Akademi Kimia Analisi Bogor.

tulisan versi Mading waktu SMA : Green School

Sekolah hijau, bukan dalam artian bahwa sekolah dengan warna cat hijau atau menggunakan segala perabotan berwarna hijau. Secara umum green school (sekolah hijau), sekolah yang menerapkan budaya cinta lingkungan. Budaya cinta lingkungan adalah suatu kegiatan yang diterapkan oleh individu atau kelompok untuk menghargai alam. Mulai dari mempertahankan apa yang telah ada, menanggulangi (memperbaiki) yang rusak, dan mencegah terjadinya kerusakan alam. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membuat alam kita tetap bersahabat, yaitu tanamkan dari dalam diri sendiri budaya cinta lingkungan. Mulai dari hal yang terkecil yang dapat kita lakukan dari diri kita sendiri, sampai hal yang dapat kita lakukan secara berkelompok.
                Banyak yang dapat kita lakukan untuk membuat bumi ini kembali bersahabat. Kita dapat menerapkannya di lingkungan sekolah, dengan menerapkan sikap disiplin. Green School atau Go Green adalah pepatah yang sedang gencar-gencarnya di terapkan di berbagai sekolah. Salah satunya MAN 3 Palembang, “be a clever, attractive and green teen”. Jadilah seorang yang pandai, menarik, dan remaja yang hijau. Remaja yang hijau, remaja yang mencintai lingkungannya. Banyak hal yang dapat kita lakukan di lingkungan sekolah untuk menerapkan budaya Green School. Mulai dari membuang sampah pada tempatnya, ada baiknya jika kita mulai melakukan pemisahan sampah organik dan anorganik. Sampah organik seperti dedaunan dapat kita olah menjadi pupuk organik (pupuk kompos). Selain itu kertas yang termasuk dalam sampah organik, dapat kita olah menjadi kertas daur ulang. Secara tidak lansung penggunaan kertas daur ulang dapat mengurangi penebangan pohon. Lain halnya dengan sampah anorganik, kita dapat memanfaatkan sampah anorganik untuk banyak hal, salah satu contohnya adalah sampah plastik. Kita dapat membuat tas, kotak pensil, jas hujan, payung, dan lain-lain degan memanfaatkan sampah plastik yang dapat kita dapatkan dengan mudah dan murah. Menurut salah satu siswi MAN 3 Palembang Amalia Nurdiyanti, penerapan slogan di MAN 3 Palembang sudah berjalan cukup baik. Dilihat dari peran siswa dan guru yang cukup baik. Dari hanya sampah, kita dapat menemukan sejuta manfaat darinya  apabila  pengolahannya tepat. Seperti halnya yang dilakukan oleh siswa/i MAN 3 Palembang dengan bimbingan beberapa guru, ekskul wirausaha pun dibentuk. Mereka memanfaatkan limbah sehari-hari yang sangat mudah dan murah didapatkan. Limbah plastik yang lumrahnya dibuang di kotak sampah, kini di manfaatkan menjadi barang serbaguna.
                Selain membuang sampah pada tempatnya, kita juga dapat menghijaukan setiap jengkal tanah kita dengan menanam pepohonan. Karena kelak pohon yang kita tanam sejak dini, memiliki manfaat yang sangat besar dalam penyedia oksigen. Oksigen sebagai salah satu komponen yang sangat kita perlukan untuk mempertahankan kehidupan, bisa kita dapatkan dari hasil fotosintesis tumbuhan. Semakin banyak pohon, semakin banyak pula tumbuhan yang melakukan fotosintesis, semakin banyak fotosintesis semakin banyak pula oksigen yang terdapat di bumi. Oksigen yang berlimpah, dapat membuat usia harapan hidup meningkat. Seperti yang diakukan oleh para siswa/i MAN 3 Palembang bersama para anggota TNI, penanaman 1000 pohon di kompleks MAN 3 Palembang. Penanaman 1000 pohon ini merupakan upaya turut serta yang dilakukan MAN 3 Palembang untuk memelihara bumi yang kita cintai ini.
                Selanjutnya kita juga dapat menghemat pemakaian energi. Matikan segala elektronik yang tidak digunakan. Pakailah AC dan lemari pendingin non CFC, karena CFC dapat merusak lapisan ozon. Kurangi penggunaan kendaraan pribadi, karena polusi dari pembakaran kendaraan bermotor yang tidak sempurna sangat merugikan. Lapisan ozon adalah lapisan yang menghambat sinar UV sampai ke bumi. Sinar UV memiliki dampak negatif bagi manusia, salah satunya kanker kulit. Lapisan ozon dapat mencegah terjadinya pemanasan global. Polusi dari pembakaran kendaraan bermotor yang tidak sempurna sangat merugikan. Hal-hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya pemanasan global dan hujan asam. Pemanasan global dan hujan asam pada umumnya terjadi akibat ulah tangan manusia itu sendiri seperti kegiatan industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor, dan pengolahan pertanian (terutama amonia). Dampaknya sangat besar untuk kehidupan kita, mulai dari suhu bumi yang tidak stabil, musim yang tak menentu dan susah untuk diprediksikan, suhu bumi yang meningkat drastis, bumi menjadi gersang, hutan menjadi kering, air tercemar, dan lain-lain. Oleh karena itu, mulailah memberlakukan sistem hemat pemakaian energi. Seperti halnya di MAN 3 Palembang, menuntut perilaku disiplin terhadap pemakaian energi. Seperti halnya, mematikan berbagai perlengkapan elektronik selagi tidak digunakan. Menurutsalah satu siswa MAN 3 Palembang Said Abdullah Sani, penerapan penghematan energi di MAN 3 Palembang sudah cukup  baik namun perlunya peran serta siwa perlu ditingkatkan.

                Melalui 3 langkah sederhana di atas, kita dapat membuat perubahan dibumi untuk menjadi lebih baik. Karena diprediksikan pada tahun 2070 bumi dilanda kekeringan luar biasa. Mulailah dari diri anda dan lingkungan serta sekolah anda. Green School !

tulisan versi cajur

Tak ada satu orang pun yang berhak untuk menilai diri orang lain, karena sejatinya hanya diri kita sendiri lah yang mengetahui siapa sebenarnya diri kita itu. Tak ada satu orang pun yang berhak untuk berkata dia orangnya begini, dia orangnya begitu, karena sejatinya hanya dia sendirilah yang tahu siapa dirinya sebenarnya. Dialah yang mengetahui segala bentuk kelebihan, kekurangan, bahkan sampai tahap manakah dia sanggup melakukan suatu hal. Dan tak ada satu orang pun yang berhak membatasi mimpi, harapan, cita, dan cinta seseorang, karena ditangannya sendirilah hal itu bergantung. Apakah ia dapat meraih segala angannya, atau hanya berdiam diri untuk melepas semua keinginannya tersebut.
            Aku adalah aku. Aku hanyalah seorang perempuan biasa. Aku hanyalah seorang perempuan biasa yang mempunyai mimpi besar. Aku adalah aku yang mempunyai jalanku sendiri untuk mempertahankan mimpiku, ataupun membuang mimpiku itu jauh-jauh. Aku adalah aku dengan segala kelebihan maupun kekuranganku. Aku adalah aku yang mempunyai batas atas kesanggupan atas suatu hal. Aku hanyalah aku yang terlahir kedunia untuk menjalani semua tanggung jawab yang telah dipercayakan Tuhan kepadaku.
            Aku bagaikan air, yang lebih cenderung mengalir. Air yang terus mengalir sepanjang masa. Air yang tak pernah henti mengalir, walaupun sebenarnya air tak tahu kearah mana dia akan mengalir. Air yang selalu mengalir namun tetap setia pada muara. Air yang tetap mengalir walaupun dihadang oleh batu sungai yang besar. Air yang akan mengalir semakin deras apabila dihadapkan dengan angin yang kencang. Air yang tetap menjaga kestabilannya walaupun dihadapkan dengan hujan. Air yang fleksibel ketika ditempatkan di wadah apapun. Air yang selalu memiliki jumlah yang sama, walaupun dihadapkan dengan musim penghujan ataupun kemarau. Air yang selalu tahu bahwa dia adalah air, yang memiliki kewajiban sebagai salah satu sumber utama kehidupan makhluk hidup. Air yang selalu mencoba menjadi air yang jernih, namun bisa berubah menjadi air yang keruh apabila diberi sugesti yang buruk. Air yang selalu berikatan dengan air yang lain, karena sulit untuk hanya menemukan satu senyawa H2O.
            Aku adalah aku yang lebih cenderung mengalir, mengalir dengan sebuah cerita kehidupan yang sebelumnya tak aku ketahui jalan ceritanya. Aku adalah aku yang  mengalir sepanjang masa, baik itu dialam dunia ataupun akhirat. Aku bagaikan air yang terus mengalir walau tak tahu arah mana sebenarnya aku akan mengalir, aku adalah seseorang yang lebih cenderung mengikuti alur, tidak neko-neko. Air yang selalu setia kepada muara, aku adalah aku yang tetap setia kepada sang Khalik walaupun telah banyak aku temukan orang baik, namun tak ada yang sesempurna sang Khalik. Aku berharap aku adalah air yang akan tetap mengalir walaupun dihadangkan dengan batu besar, aku bisa menghadapi segala bentuk ujian yang menghampiriku. Aku juga berharap aku adalah air yang semakin kencang ketika dihadapkan dengan angin yang besar, aku memiliki semangat yang semakin besar ketika dihadapkan dengan ujian yang semakin berat. Air yang akan menjaga kestabilannya ketika dihadapkan jumlah hujan, walaupun air hujan mendarat disebuah kubangan air, ia akan tetap menjaga kestabilannya. Aku harap aku adalah air yang selalu fleksibel dimanapun aku berada karena aku akan menyesuaikan diri dimanapun aku berada, bagaikan air hujan yang selalu siap dimanapun ia akan mendarat. Aku harap aku adalah air yang memiliki jumlah yang sama baik dalam penghujan atau kemarau sekalipun, aku adalah aku yang akan selalu sama walau telah beratus tahun kemudian. Air yang selalu tahu bahwa dia adalah air, yang memiliki kewajiban sebagai salah satu sumber utama kehidupan makhluk hidup, aku adalah aku yang tahu bahwa aku dibebani tanggung jawab yang besar kepada diri sendiri, orang tua, lingkungan, terutama Tuhan yang telah memberikan segala kenikmatan kepadaku. Aku adalah air yang berusaha menjadi jernih namun bisa menjadi keruh apabila disugesti dengan hal yang buruk, aku adalah aku yang selalu berusaha melakukan hal yang terbaik namun ada kalanya aku jatuh ketika aku beranggapan aku tidak bisa melakukan yang terbaik. Air yang selalu berikatan dengan air yang lain, karena sulit untuk hanya menemukan satu senyawa H2O, aku adalah aku yang masih membutuhkan orang lain dan tidak bisa hidup secara individual.
            Aku bagaikan api yang pasti panas sekecil atau sebesar apapun apinya. Aku adalah api yang terkadang menjadi penyelamat, namun juga bisa berubah menjadi bencana. Aku adalah api yang bisa memberikan kehangatan. Aku berharap aku adalah api yang pasti bisa menjadi penerang di gua yang gelap. Aku berharap aku adalah api yang sering digunakan oleh siapapun untuk melakukan suatu hal. Aku berharap dapat menjadi api sebagai lambang dari semangat juang. Namun aku adalah api yang membara lebih besar ketika disiram dengan bahan bakar.

            Aku bagaikan api yang pasti panas sekecil atau sebesar apapun apinya, aku tetap aku seberapa sukses atau gagalnya aku nanti. Aku adalah api yang terkadang menjadi penyelamat, namun juga bisa berubah menjadi bencana, aku adalah aku yang terkadang bisa menolong seseorang dengan caraku dan aku adalah aku yang bisa mencelakakan seseorang dengan caraku juga. Aku adalah api yang bisa memberikan kehangatan, aku berharap adalah api yang memberikan kehangatan kepada orang yang berada disekitarku. Aku berharap aku adalah api yang pasti bisa menjadi penerang di gua yang gelap, aku berharap bisa menjadi penerang bagi seseorang yang sedang kebingungan. Aku berharap aku adalah api yang sering digunakan oleh siapapun untuk melakukan suatu hal, aku berharap aku dapat membantu seseorang sebisa yang dapat aku lakukan. Aku berharap bisa menjadi api dengan semangat yang tak pernah padam dalam kondisi apapun. Namun aku adalah api yang membara lebih besar ketika disiram dengan bahan bakar, namun aku juga bisa menjadi emosional ketika berhadapan dengan orang-orang yang melakukan sesuatu hal buruk kepadaku.